Menjadi Pemimpin di Usia Muda

Posted: 17 Oktober 2016 in Lagi Serius

(RIAUPOS.CO) – Menjadi pemimpin bukan hal yang mudah, tapi juga bukan hal yang mustahil. Seorang pemimpin dituntut untuk bisa menjadi pembuat kebijakan yang bijak. Pengalaman berbicara banyak dalam hal menjadi sosok seorang pemimpin.

Aktif pada saat perkuliahan tidak hanya sekadar belajar, namun juga aktif dalam bergai organisasi yang justru menempa diri dengan pengalaman-pengalaman. Berbagai organisasi kemahasiswaan terbutki mampu melahirkan pemimpin unggul di masyarakat.

Hal tersebut juga yang membuat Syaiful Afrizon SPd bisa menjadi pemimpin yang kuat. Aktif sebagai anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di organisasi kepemudaan serta pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) jelas-jelas memberikan pelajaran buat alumnus Pendidikan Kimia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) tahun 2003 ini.

Buktinya, d itempat ia mengabdi justru memberikan kepercayaan kepadanya sebagai wakil kepala sekolah bidang kurikulum pada usianya yang masih muda.

Syaiful Afrizon, S.Pd

‘’Ini amanat yang besar. Tapi ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan selama berkuliah sangat memberikan saya arti bagaimana memimpin yang benar. Jika melihat usia memang kayaknya belum banyak pengalaman, tapi keinginan untuk terus belajar yang membuat saya siap,’’ terang pria berkacamata yang biasa disapa Ipul.

Ipul yang pada saat kuliah dikenal kritis atau orang yang memiliki rasa ingin tahu yang besar ini, menyebutkan pada awal dipercaya menjadi wakasek sempat ada keraguan. Namun, belajar dari apa yang didapatnya pada masa kuliah, ia menjadi lebih kuat. Bahkan ia menyebutkan dirinya lebih siap dalam menghadapi tantangan-tantangan ke depannya. Basic sebagai tenaga pengajar yang juga berhubungan dengan kurikulum menjadi tambahan pengalaman yang dikombinasikan dengan ilmu yang didapatnya di Universitas Riau beberapa waktu lalu.

Sempat juga ada beberapa orang yang menilainya belum siap menjadi seorang pemimpin mengingat usianya yang masih seumur jagung dalam profesi tenaga pendidikan. Namun ia menjadikan hal tersebut sebagai motivasinya untuk lebih maju dan lebih baik.

‘’Tantangan dari luar tentu ada, tapi itu adalah penyemangat yang tidak tampak. Artinya, jika ketidakyakinan orang itu bisa kita jawab dengan keberhasilan, tentu rasanya itu lebih manis dibandingkan tanpa usaha. Dalam prinsip saya, bagaimana orang yang mengkritik itu adalah orang yang paling sayang dengan kita dan memotivasi kita untuk lebih maju. Yang muda juga membuktikan diri bisa berkarya,’’ katanya.(ade)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s