TRADISI MENODAI PUTIH ABU-ABU

Posted: 9 Mei 2016 in Hobi Gue, Lagi Serius, Liputan Amatiran, Tentang Pendidikan

Sore ini saat magrib menjelang, perjalanan dari bangkinang menuju danau bingkuang, jalan-jalan dikotori oleh rombongan anak-anak yang katanya anak sekolah tapi malah terlihat seperti tidak berpedidikan. Mereka menjadi raja jalanan dengan berkendaraan ugal-ugalan. Menggunakan atribut khas baju dicoret-coret, berkonvoi ria dijalan raya yg memancing bahaya, bahaya bagi mereka bahkan kita pengguna jalan lainnya. Ternyata tidak hanya baju saja, rambut, wajah, jembatan, jalan, rambu lalulintas, pohon-pohon dan apapun yg mereka temukan terpaksa ikut merasakan uforia luapan kelulusan. Selain di coret-coret, putih abu-abu disobek dan digunting, sehingga terlihat compang camping, seperti gembel mau camping. Ya inilah budaya yang tiap tahun tidak bisa berubah, walaupun sudah dicoba berbagai macam cara dan upaya.

13103274_461733910702422_2094533096068910692_n

sumber foto : akun facebook

Saya pikir budaya ini mulai hilang, dengan tidak berpengaruhnya nilai UN terhadap kelulusan mulai tahun lalu melalui keputusan mentri dikabinet yang baru. Tetapi ternyata sama saja, tidak tergantung kebijakan kelulusan UN nya. Berapapun nilai UN nya yang penting mereka berpesta. Padahal nilai UN ini sanagat menentukan kelulusan mereka di Universitas Negeri melalui jalur SNMPTN. Selain itu bagi yg tidak mencapai nilai 55 mengulang lagi pada Ujian Nasional Perbaikan yg akan diadakan tanggal 29 agustus 2016 ini. Dan UNP tersebut seluruhnya ujian berbasis komputer atau istilahnya UNBK. Jika saja mereka tahu nilai UN yang tidak seberapa itu, saya jadi kasihan melihat pesta yang mereka lakukan berlebihan. Itupun bagi yang hasil UN nya murni, tanpa kompromi atau hasil beli kunci.

Harus dengan cara apa lagi kita mengurangi budaya ini, yang jelas-jelas berbahaya, terlihat tidak beretika dan mengganggu ketertiban jalan raya. Mari kita pikirkan bersama-sama. Tidakpun menghilangkan, setidaknya mengurangi dampak buruk yang ditimbulkan.

Danau Bingkuang, 7 Mei 2016. Pukul 22:00 wib, saat tulisan ini diposting, masih terlihat anak-anak yang nongkrong bengong di jembatan dan masih terdengar suara kenalpot blong yang bolak balik diantara hujan rintik-ritik.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s