Penjelasan Ilmiah Tentang Kesurupan

Posted: 17 Maret 2011 in Lagi Serius

Selama tahun 2011 ini belum ada satu pun tulisan yang saya posting di blog yang terlupakan ini. Niatnya tahun ini fokus buat nulis, setidaknya untuk mengemukakan pendapat, ide dan gagasan saya. Tapi memang kalo tidak ada bakat hal ini terasa sangat menyulitkan terlebih lagi kalau tak niat. Selain itu mungkin disebabakan kesibukan di sekolah akhir-akhir ini. Fokus buat ngajar, ngajar dan ngajar. Saya tidak mau konsentrasi saya terpecah. Terlebih lagi UN semakin dekat.

Terlalu banya beban pikiran takutnya malah membuat saya jadi stres dan bisa-bisa malah jadi kesurupan. Ya, sepertinya tema ini juga bagus dia angkat jadi bahan postingan hari ini. Terlebih akhir-akhir ini fenomena kesurupan banyak terjadi di sekolah-sekolah. Kesurupan adalah sebuah fenomena disaat seseorang berada di luar kendali dari pikirannya sendiri. Beberapa kalangan mengganggap kesurupan disebabkan oleh kekuatan gaib yang merasuk ke dalam jiwa seseorang (wikipedia). Namun berdasarkan penjelasan ilmiah yang berhasil saya temukan dengan bantuan google, kesurupan ternyata bukan disebabkan oleh jin ataupun mahluk halus lainnya. Menurut beberapa sumber, fenomena kesurupan ini ternyata hanyalah pengaruh pisikologis semata.

Sebelum membaca sumber-sumber tersebut saya juga memang tidak yakin dengan adanya mahluk halus yang menyebabkan kesurupan, terlebih lagi fenomena kesurupan ini banyak terjadi di sekolah-sekolah ketika mendekati ujian. Ataupun tempat-tempat terjadi bencana dan lokasi-lokasi pengungsian, dimana orang-orang yang berada disana mungkin mendapat tekanan pisikologis atau beban mental yang sangat tinggi. Kondisi kesehatan pun juga mungkin dapat menyebabkan kesurupan ini terjadi. Ternyata analisa saya ini sesuai dengan penjelasan ilmiah yang saya temukan.

Ditinjau dari sistem saraf, kesurupan adalah fenomena serangan terhadap sistem limbic yang sebagian besar mengatur emosi, tindakan dan perilaku. Sistem limbic sangat luas dan mencakup berbagai bagian di berbagai lobus otak. Dengan terganggunya emosi dan beratnya tekanan akibat kesulitan hidup, timbullah rangsangan yang akan memengaruhi sistem limbic. Akhirnya, terjadilah kekacauan dari zat pengantar rangsang saraf atau neurotransmitter. Zat penghantar rangsang saraf yang keluar mungkin norepinephrin atau juga serotonin yang menyebabkan perubahan perilaku atau sebaliknya (www.indonesiaindonesia.com)

 

Untuk lebih jelasnya, silakan baca sumber-sumber berikut ini :

www.faktailmiah.com

www.indonesiaindonesia.com

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s